WahanaNews Labuhanbatu – Gelak tawa ceria anak-anak memecah suasana pagi di TK Pembina Rantauprapat, Selasa (31/3/2026). Jemari mungil mereka tidak sedang memegang pensil atau krayon, melainkan sibuk menyentuh tanah dan memetik hasil bumi yang mereka tanam sendiri.
Hari itu bukan sekadar hari sekolah biasa. Ini adalah momen pembuktian dari inovasi program Gema Sahabat Bunda PAUD Labuhanbatu yang berhasil menyulap lahan kosong di pekarangan sekolah menjadi "laboratorium alam" yang produktif.
Baca Juga:
DPC GAMKI Tapteng Masa Bakti 2025-2028 Dilantik, Plt Kadis Pertanian: GAMKI Wadah Aspirasi dan Penggerak Peran Pemuda
Belajar Mandiri dari Sebutir Benih
Melalui tangan-tangan kreatif para guru dan antusiasme siswa, ketahanan pangan bukan lagi istilah rumit bagi orang dewasa saja. Di sekolah ini, anak-anak diajarkan bahwa makanan yang mereka santap sehari-hari memerlukan proses panjang yang penuh tanggung jawab.
Kepala Dinas Pendidikan Labuhanbatu, Abdi Jaya Pohan, SH, yang hadir langsung mengikuti prosesi panen, tampak sumringah melihat keberhasilan para siswa. Menurutnya, esensi utama dari kegiatan ini bukanlah seberapa banyak sayur yang dihasilkan, melainkan nilai-nilai yang tumbuh di hati anak-anak.
Baca Juga:
7 Karakter Baru Meramaikan Wednesday Season 2, Termasuk Lady Gaga
"Program ini bukan hanya soal bercocok tanam. Di sini, kita sedang menanamkan benih kerja sama, rasa tanggung jawab, dan kemandirian sejak usia dini," ujar Abdi Jaya Pohan di sela-sela aktivitas panen.
Lebih dari Sekadar Kurikulum
Inovasi Gema Sahabat Bunda PAUD ini mengintegrasikan pendidikan karakter dengan kecintaan terhadap lingkungan. Para siswa terlibat aktif dalam seluruh siklus, mulai dari meletakkan benih di tanah, menyiramnya setiap hari dengan sabar, hingga tiba waktunya memanen.
Guru-guru di TK Pembina mengungkapkan bahwa ada perubahan positif yang terlihat pada perkembangan anak. Secara kognitif, mereka belajar mengenal jenis tanaman, secara sosial dan emosional, mereka belajar menghargai proses dan kerja keras.
"Anak-anak sangat bangga saat melihat tanaman yang mereka siram setiap hari akhirnya bisa dipetik. Ada rasa percaya diri yang muncul saat mereka tahu mereka bisa menghasilkan sesuatu," ungkap salah seorang guru yang terlibat.
Inspirasi untuk Masa Depan
Kegiatan panen bersama ini menjadi simbol kolaborasi yang manis antara pemerintah, pendidik, dan peserta didik. Hasil panen tersebut tidak hanya dinikmati bersama, tetapi juga menjadi media edukasi bagi orang tua dan masyarakat sekitar tentang pentingnya ketahanan pangan keluarga.
Ke depan, model pendidikan berbasis lingkungan ini diharapkan tidak berhenti di TK Pembina saja. Gema Sahabat Bunda PAUD Labuhanbatu diproyeksikan menjadi pemantik bagi sekolah-sekolah lain untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang berkelanjutan, di mana sekolah bukan lagi sekadar gedung bertembok, melainkan taman tempat karakter dan kemandirian bertumbuh subur.*